Polmas

Bripda Debi Tarigan Berbagi Suka Duka Jadi Polwan Tim Pemulasaran Jenazah COVID-19

Penanusa.com – Bripda Debi Tarigan adalah salah satu Polisi Wanita (Polwan) yang tergabung dalam Tim Pemulasaran Jenazah Positif COVID-19 Operasi Aman Nusa II Jaya 2020 (Penanganan COVID-19).

Beberapa waktu lalu anggota Ditsamapta Polda Metro Jaya ini menceritakan suka duka selama bertugas mengurus jenazah pasien positif COVID-19.

“Rasanya pertama kali itu senang. Wah, pakai APD ni! Harusnya kan orang kesehatan doang yang punya. Jadi ada kebanggaan tersendiri. Pas pakai, panasnya luar biasa. Apalagi waktu siang bolong, benar-benar panas,” ungkap Bripda Debi menceritakan pengalaman pertama mengenakan alat pelindung diri (APD).

Saat bertugas, selain mengenakan APD, Bripda Debi dan kedua rekannya, Bripka Rina Arman dan Bripda Khalda, juga diwajibkan mengenakan sarung tangan, kacamata google, pelindung kepala, dan masker tiga lapis.

“Benar-benar tiga lapis. Masker sensi dulu, terus N95, terus sensi lagi. Dan itu benar-benar pengap,” jelas Bripda Debi. “Rasanya itu di dalam lebih dari sauna. Napas saja sudah pakai mulut karena hidung kan sudah tertutup,” tambahnya.

Selama bertugas, Bripda Debi dan rekan-rekannya, serta dibantu pihak lain seperti Puskesmas, Satpol PP, dan Dinas Damkar, telah mengurus 17 jenazah perempuan dari seluruh DKI Jakarta.

Karena tugas tersebut, Bripda Debi mengaku sempat merasa was-was ikut tertular Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Namun penggunaan APD lengkap membuatnya mampu menekan rasa was-was itu dan terus semangat menjalankan tugas demi misi kemanusiaan.

Kisah pilu lain yang diceritakan Bripda Debi adalah terkadang tak ada waktu istirahat. Pernah suatu waktu, ketika baru saja tiba di mes dan langsung rebahan untuk istirahat, tiba-tiba ada panggilan yang memintanya kembali ke pos komando (Posko) untuk melakukan tugas selanjutnya.

“Saya tinggal di mes bersama rekan Khalda. Jadi kami berdua merapat ke Posko Monas. Lalu dari Posko Monas nanti kita ke lokasi, karena ini kan meninggalnya di rumah bukan di rumah sakit. Jadi kami mendatangi pasien COVID-19 yang meninggal di rumah, bukan yang di rumah sakit. Kalau yang di rumah sakit kan sudah ada tim medis,” kisah Bripda Debi.

Namun, Bripda Debi menegaskan, semua kelelahan dan kesulitan tersebut tidak terasa apa-apa dibanding pengalaman dan pengetahuan yang didapat. Sebagai seorang Nasrani, ia mengaku akhirnya mendapat pengalaman berharga dan pengetahuan baru bagaimana cara mengurus jenazah pemeluk agama-agama lainnya.

“Sedih juga melihat mereka dimakamkan dengan tidak selayaknya begitu. Ada perasaan sedih juga,” akunya.

[AKP Bambang AS]

Baca juga: dr Reisa Wanti-wanti soal Olahraga di Luar Ruangan: Jangan Malah Berkerumun

Pos Terkait

Back to top button