Nasional

Guyon Gus Dur, Bintang, dan Nasib Kritik Jenaka di Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia — Sejumlah serangan terhadap pengkritik dengan kemasan jenaka alias satir kepada pemerintah dan aparat dipandang sebagai bentuk kurangnya keterbukaan sekaligus minimnya tokoh berintelektual tinggi. Indonesia pun dianggap tengah darurat humor.

Diketahui, polisi memeriksa seorang warga di Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), Maluku Utara, Ismail Ahmad, terkait unggahannya di sosial media dengan mengutip guyonan lama Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang polisi.

Ismail mengunggah meme dengan tulisan, ‘Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: Patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng’. Usai proses klarifikasi, Ismail meminta maaf.

Tak ketinggalan, kritik bernada guyon dari Komika Bintang Emon soal kasus Novel Baswedan juga sempat memicu serangan akun anonim di media sosial.

Dalam video yang diunggah ke akun medsos pribadinya, Bintang menyindir dalih Jaksa Penuntut Umum (JPU) terkait tuntutan ringan kepada dua terdakwa penyiraman air keras terhadap Novel.

Tiga akun anonim yang menyerangnya kini sudah ditutup. Sejumlah pihak mengaitkannya dengan ulah pendengung alias buzzer pembela penguasa.

Peneliti di Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Jati menilai fenomena ini terjadi karena publik semakin ekspresif dalam menyampaikan pendapat serta ingin tahu soal isu terkini. Di sisi lain, negara dalam kondisi waspada terhadap kritik.

“Semakin ingin tahu publik terhadap suatu hal, demikian pula negara merasa cemas,” ujar dia, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (18/6).

Demikian juga dengan aparat. Wasis menilai respons polisi terkait guyon Gus Dur itu terkait kurangnya keterbukaan pemikiran.

“Di sini kita melihat perlu adanya pemikiran reformis aparat terhadap kritik dari masyarakat,” ujar dia.

Senada, pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menyatakan insiden di atas merupakan cerminan suasana kejiwaan polisi di Indonesia.

Hal ini berdasarkan sebuah survei di Inggris terhadap aparat. Salah satu pertanyaannya adalah kunci sukses dalam tugas. Saat itu, jawaban pertanyaan terbanyak ialah cita rasa humor atau sense of humor.

“Saat pertanyaan serupa saya ajukan ke mahasiswa PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) di kelas saya, kebanyakan menjawab, ‘Pemahaman UU’,” lanjut Reza.

“Cerminan suasana kejiwaan polisi di sana (Inggris) dan polisi di sini. Di sini, menjadi polisi adalah sama dengan menjadi penegak hukum. Di sana, menjadi polisi berarti menjadi sahabat masyarakat,” urainya.

Reza pun mengingatkan bahwa mudah tersinggung berpengaruh pada kesehatan dan kebahagiaan.

“Orang-orang dengan cita rasa humor yang rendah, semakin gampang tersinggung, semakin rendah pula imunitas tubuhnya. Riset lain, selera humor juga berpengaruh terhadap kemampuan diri dalam menikmati hidup,” tutur dia.

Terpisah, Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin langkah penegak hukum memproses pengunggah guyon Gus Dur sebagai hal yang “sebenarnya aneh dan lucu” di negara demokratis.

“Kita sudah sepakat dengan berdemokrasi, siap menerima kritik apapun, apalagi kritikan hadir dalam rekaman oleh tokoh bangsa, mantan Presiden,” kata dia, dalam keterangannya kepada CNNIndonesia.com.

“Kenapa Pemerintah atau polisi harus gamang? Kenapa tersinggung? Kalaupun kritikannya sangat pedas, seharusnya itu menjadi alat picu untuk mengevaluasi diri,” imbuhnya.

Baginya, kritik-kritik jenaka di atas sudah dilakukan dengan benar karena tanpa penghinaan. Terlebih, warga semakin bisa merasakan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat kecil.

“Masyarakat sudah benar, mengkritik itu benar, yang tidak boleh adalah menghina,” kata Ujang, “Lucu kalau kritik dilarang dan direspons negatif”.

 

Kekurangan Tokoh

Ujang juga menganggap fenomena serangan terhadap humor ini membuktikan bahwa Indonesia belum memiliki sosok tokoh berkualitas dengan intelektualitas tinggi.

“Kita ini gersang dengan guyonan segar. Gus Dur hidup mewarnai itu. Biasanya orang dengan kadar humor tinggi adalah orang yang cerdas memang, kuat intelektualnya. Nah, hari ini kita tidak menemukan tokoh-tokoh seperti itu,” tuturnya.

Menurut Ujang, para tokoh saat ini lebih gemar mempertontonkan pertikaian di depan publik.

“Inilah sebenarnya yang harus kita bangun, bagaimana menghadirkan humor-humor yang jenaka, humor politik yang cerdas tapi menggigit seperti Gus Dur,” sambungnya.

Apakah fenomena-fenomena ini juga bukti bahwa Indonesia darurat humor? “Iya, saya melihat seperti itu, dari pemerintah atau penegak hukum terlalu serius menangani hal-hal yang menurut saya merupakan bagian daripada hiburan masyarakat,” jawab Ujang. (khr/arh)

Baca juga: Polisi Ciduk Warganet Usai Unggah Guyonan Gus Dur soal Hoegeng

Pos Terkait

Back to top button