Politik

LACI Indonesia: Membaca Arah Populisme Islam di Pilpres 2019

 

Penanusa.com – Secara umum, populisme Islam pada dasarnya adalah varian dari “populisme politik” yang berkembang pesat di negara-negara Eropa dan Amerika belakangan ini. Kekuatan inilah yang disebut-sebut menjadi faktor utama dalam terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

Yaitu sebuah kekuatan yang lahir dari semangat perlawanan terhadap kemapanan sebagai akibat dari eksklusi sosial dan marginalisasi yang menimpa sebagian kelompok dan kelas sosial tertentu yang berujung pada ketidakadilan dan ketimpangan sosial.

Pada gilirannya, isu ketidakadilan dan ketim-pangan sosial ini adalah pemicu utama munculnya konflik dan gerakan politik yang membentuk aliansi antar-kelas/kelompok (cross-class alliance) untuk menentang musuh, baik secara ideologi maupun politik.

Populisme Islam meng-orga-nisasi diri dalam bentuk aliansi antarkelompok di bawah panji-panji Islam sebagai alat pemersatu paling efektif. Dalam konteks Indonesia, populisme Islam menemukan momentumnya pada gelaran Pilkada Jakarta 2017 lalu. Beragam kelompok dan
ormas Islam berhasil menyatukan diri dalam sebuah gerakan yang pada mulanya menuntut keadilan (penegakan hukum) atas kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Dalam rangka menjawab pertanyaan bagaimana kekuatan dan arah populisme Islam pada Pilpres 2019, Lembaga Cita Insan (LACI) Indonesia menggelar Diskusi Publik dengan tema “Membaca Arah Populisme Islam di Pilpres 2019”, yang bertempat di D Hotel, Jakarta, Sabtu, 26 Januari 2019.

Hadir sebagai narasumber Adi Prayitno (Pengamat Politik/Dosen UIN Syarief Hidayatullah Jakarta), Eggi Sudjana (Dewan Penasehat Alumni 212), Ismail Yusanto (Mantan Jubir HTI), dan Novriantoni Kahar (Dosen Universitas Paramadina). []

Pos Terkait

Back to top button