Khazanah

Masjid Istiqlal Jadi Gambaran Perjuangan Muslimin Raih Kemerdekaan

Penanusa.com – Ada satu masjid di Indonesia yang sangat terkenal dan memiliki nilai sejarah panjang perjalanan muslimin, yaitu Masjid Istiqlal.

Masyarakat tanah air terutama muslimin pastinya tak asing lagi dengan masjid yang berada di pusat Ibu Kota Jakarta ini.

Sebab Masjid Istiqlal ini bisa dikatakan pusat masjid Indonesia, atau masjid yang mewakili umat muslim Indonesia. Sekaligus menjadi kebanggaan ummat muslim Indonesia dengan segala kebesarannya.

Karena menyandang status terhormat ini maka masjid ini harus menjadi menggambarkan semangat perjuangan dalam meraih kemerdekaan. Sejauh mana Anda mengenal Masjid Istiqlal ini?

Dilansir dari berbagai sumber, masjid ini dibangun sebagai ungkapan dan wujud dari rasa syukur bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam, atas berkat dan rahmat Allah Swt yang telah menganugerahkan nikmat kemerdekaan, terbebas dari cengkraman penjajah. Karena itulah masjid ini dinamakan “Istiqlal” yang dalam bahasa Arab berarti “Merdeka”.

Baca juga: Urgensi Mengkaji Sirah Nabawiyah dengan Utuh

Sejarah Berdirinya Masjid Istiqlal

Ide pembangunan masjid tercetus setelah empat tahun proklamasi kemerdekaan. Gagasan pembangunan masjid kenegaraan ini sejalan dengan tradisi bangsa Indonesia yang sejak zaman kerajaan purba pernah membangun bangunan monumental keagamaan yang melambangkan kejayaan negara. Misalnya pada zaman kerajaan Hindu-Buddha bangsa Indonesia telah berjaya membangun candi Borobudur dan Prambanan. Karena itulah pada masa kemerdekaan Indonesia terbit gagasan membangun masjid agung yang megah dan pantas menyandang predikat sebagai masjid negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Pada tahun 1950, KH. Wahid Hasyim yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Agama RI dan H. Anwar Tjokroaminoto dari Partai Syarikat Islam mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh Islam di Deca Park, sebuah gedung pertemuan di jalan Merdeka Utara, tidak jauh dari Istana Merdeka. Pertemuan dipimpin oleh KH. Taufiqurrahman, yang membahas rencana pembangunan masjid. Dalam pertemuan itu disepakati H. Anwar Tjokroaminoto sebagai ketua Yayasan Masjid Istiqlal. Beliau juga ditunjuk secara mufakat sebagai ketua panitia pembangunan Masjid Istiqlal.

Berikutnya pada tahun 1953, Panita Pembangunan Masjid Istiqlal, melaporkan rencana pembangunan masjid itu kepada kepala negara. Presiden Soekarno menyambut baik rencana tersebut, bahkan akan membantu sepenuhnya pembangunan Masjid Istiqlal. Kemudian Yayasan Masjid Istiqlal disahkan dihadapan notaris Elisa Pondag pada tanggal 7 Desember 1954.

Presiden Soekarno mulai aktif dalam proyek pembangunan Masjid Istiqlal sejak beliau ditunjuk sebagai Ketua Dewan Juri dalam Sayembara maket Masjid Istiqlal yang diumumkan melalui surat kabar dan media lainnya pada tanggal 22 Pebruari 1955. Melalui pengumuman tersebut, para arsitek baik perorangan maupun kelembagaan diundang untuk turut serta dalam sayembara itu.

Sambutan masyarakat sangat menggembirakan, tergambar dari banyaknya peminat hingga mencapai 30 peserta. Dari jumlah tersebut, terdapat 27 peserta yang menyerahkan sketsa dan maketnya, dan hanya 22 peserta yang memenuhi persyaratan lomba.

Baca juga: Masjid Al-Aqsa dengan Segudang Pesonanya

Pada tanggal 5 Juli 1955, Dewan Juri menetapkan Fredrerich Silaban sebagai pemenang pertama dengan disain bersandi Ketuhanan. Penetapan tersebut dilakukan di Istana Merdeka, sekaligus menganugerahkan sebuah medali emas 75 gram dan uang sebesar Rp. 25.000.

Simbolisme

Rancangan arsitektur Masjid Istiqlal mengandung angka dan ukuran yang memiliki makna dan simbol tertentu. Terdapat tujuh gerbang untuk memasuki ruangan dalam Istiqlal yang masing-masing dinamai berdasarkan Al-Asmaul-Husna, yaitu As Salam, Ar Rozzaq dan Al Fattah pada bagian pintu utama. Pintu lainnya, antara lain bernama Al Malik, Al Quddus, Al Ghaffar, dan Ar Rahman. Angka tujuh melambangkan tujuh lapis langit dalam kosmologi alam semesta Islam, serta tujuh hari dalam seminggu.

Bangunan masjid terdiri atas dua bangunan, bangunan utama dan bangunan pendamping yang lebih kecil. Bangunan pendamping berfungsi sebagai tangga sekaligus tempat tambahan untuk beribadah. Bangunan utama ini dimahkotai kubah dengan bentang diameter sebesar 45 meter, angka “45” melambangkan tahun 1945, tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Kemuncak atau mastaka kubah utama dimahkotai ornamen baja antikarat berbentuk Bulan sabit dan bintang, simbol Islam.

Kubah utama ini ditopang oleh 12 tiang ruang ibadah utama disusun melingkar tepi dasar kubah, dikelilingi empat tingkat balkon. Angka “12” yang dilambangkan oleh 12 tiang melambangkan hari kelahiran Nabi Muhammad yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal, juga melambangkan 12 bulan dalam penanggalan Islam (juga penanggalan Masehi) dalam satu tahun. Empat tingkat balkon dan satu lantai utama melambangkan angka “5” yang melambangkan lima Rukun Islam sekaligus melambangkan Pancasila, falsafah kebangsaan Indonesia.

Keistimewaan

Ada banyak keistimewaan Masjid Istiqlal yang tidak dimiliki masjid-masjid lainnya. Masjid Istiqlal dibangun bertepatan dengan peringatan Kelahiran Nabi Muhammad Saw yang dikenal maulid nabi. Selain itu, Istiqlal memiliki total menara setinggi 90 meter dengan rincian tubuh menara dibuat dari marmer setinggi 66,66 meter melambangkan jumlah ayat dalam Al Qur’an dan menara baja antikarat 30 meter melambangkan 30 juz dalam Al Qur’an. Model bangunan meruncing ke atas berfungsi untuk mengumandangkan adzan. Keistimewaan selanjutnya, Istiqlal adalah masjid terluas mencapai 4 hektare yang bisa menampung jamaah hingga 61 ribu orang.

Tak hanya itu, bedug raksasa dengan panjang 3 (tiga) meter dan berat 2,3 ton, diameter 2 meter pada bagian depan dan diameter 1,71 meter pada bagian belakang menjadikan bedug raksasa ini sangat istimewa. Yang luar biasa lagi, keistimewaan bedug Masjid Istiqlal terletak pada bahan yang dibuat, yaitu dari kayu meranti merah (dalam bahasa Inggris shorea wood) yang usianya mencapai 300 tahun diambil dari sebuah hutan di Kalimantan Timur. (*)

Pos Terkait

Back to top button