Ekonomi

Nicke Masih Jadi Dirut Pertamina, Pengamat: Endorser Ahok Kurang Kuat

JawaPos.com – PT Pertamina (Persero) dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dilaksanakan pada Jumat (12/6) kemarin mengangkat kembali Nicke Widyawati sebagai direktur utama (Dirut), dengan menjungkalkan Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok yang sempat digadang-gadang menggantikannya .

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengatakan bahwa pengangkatan dan penjungkalan itu semakin menguatkan indikasi bahwa endorsers (pendukung) Nicke lebih powerfull ketimbang endorsers Ahok.

“Pengangkatan kembali Nicke sebagai Dirut Pertamina lebih didasarkan pada kekuatan endorsers, bukan didasarkan atas kriteria dan kinerja terukur,” terangnya melalui keterangan resmi, Sabtu (13/6).

Selama menjabat Dirut Pertamina, menurutnya, kinerja Nicke cenderung jeblok. Indikatornya, perolehan laba yang dicatatkan sebagian besar berasal dari dana kompensasi dari pemerintah, bukan dari pendapatan usaha.

“Nicke gagal dalam menaikkan lifting minyak dari sumur-sumur yang dikelola Pertamina. Bahkan, di sumur terminasi, Blok Madura dan Blok Mahakam, produksinya semakin menurun saat diambil alih oleh Pertamina,” ungkapnya.

Dirinya pun melanjutkan, peningkatan lifting (produksi siap jual) itu sangat dibutuhkan untuk menekan defisit neraca migas, yang semakin membengkak. Nicke juga gagal dalam pembangunan kilang minyak.

Adapun, dari 5 kilang minyak yang direncanakan untuk dibangun dan dikembangkan hampir tidak ada progres berati, bahkan mengalami kemunduran. Salah satunya adalah Refinary Development Master Plan (RDMP) Kilang Cilacap.

“Kerja sama Pertamina dan Aramco untuk pengembangan Kilang Cilacap justru berakhir sebelum dimulai. Demikian juga dengan Kilang Bontang, kerja sama Pertamina dengan OOG Oman, juga kandas di tengah jalan. Padahal, Pembangunan Kilang merupakan perintah Presiden Joko Widodo sejak periode pertama pemerintahan Joko Widodo, tetapi tetap saja kilang minyak tidak dapat dibangun,” tambah dia.

Selain ketiga kinerja jeblok itu, Nicke tidak adil terhadap konsumen BBM non-subsidi. Pada saat harga minyak dunia naik, Pertamina pun dengan sigap menaikkan harga BBM Non-Subsidi. Namun pada saat harga minyak dunia terpuruk pada titik nadir, Pertamina tidak menurunkan harga BBM Non-Subsidi.

“Memang Pertamina dapat meraub laba besar, tetapi masyarakat sebagai konsumen dirugikan,” terang Fahmy.

“Dengan kinerja jeblok, pengangkatan kembali Nicke menjadi preseden (contoh) buruk pada mekanisme pengangkatan perusahaan plat merah di Indonesia,” sambung dia.

Pos Terkait

Back to top button