BeritaHeadlineNasional

Penahanan HRS Dinilai Tidak Tepat, Waketum MUI: Lebih Banyak Mudaratnya

Penanusa.com – Status tahanan yang disanding Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizeq Shihab (HRS) banyak kalangan menilainya tidak tepat.

Di antaranya Majelis Ulama Indonesia (MUI), lewat Wakil Ketua Umum Anwar Abbas menilai penahanan HRS oleh kepolisian lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.

“Dalam kesimpulan saya, menahan Habib Rizieq lebih besar mudaratnya dari pada manfaatnya,” kata Anwar kepada dilansir dari CNNIndonesia.com, (17/12).

Anwar menyarankan Rizieq tak perlu ditahan bila pemeriksaannya belum rampung. Hal itu bertujuan agar tak ada aksi demonstrasi sehingga menimbulkan kerumunan oleh para pendukungnya saat ini.

Baca juga: Massa di Medan: Usut Tuntas Kasus Penembakan 6 Laskar FPI

“Menurut saya kalau pemeriksaan Habib Rizieq belum selesai ya selesaikan tapi tidak usah ditahan supaya tidak ada demo dan kerumunan-kerumunan,” kata dia.

Anwar khawatir bila aksi demonstrasi terus dilakukan, maka pengendalian virus corona tak akan bisa berjalan maksimal di Indonesia. Sebab, aksi demonstrasi dipastikan menimbulkan kerumunan yang seharusnya tak boleh dilakukan di tengah pandemi.

“Karena kalau ada kerumunan itu yang namanya virus corona juga punya cara kerjanya sendiri dalam menularkan,” kata Anwar.

Elemen masyarakat yang mengatasnamakan Aliansi Nasional Anti-Komunis (ANAK) NKRI diketahui menggelar aksi demonstrasi di depan Istana Negara, Jakarta, Jumat (18/12) atau aksi 1812. Ormas-ormas Islam seperti FPI, PA 212 hingga GNPF-Ulama akan bergabung serta dalam aksi tersebut.

Baca juga: Jokowi Sebut Alasan Gratiskan Vaksin COVID-19 Karena Masukan dari Masyarakat

Aksi itu salah satu tuntutannya adalah menuntut pemerintah agar Rizieq Shihab dibebaskan tanpa syarat.

“Dan setop agar kriminalisasi ulama dan setop diskriminasi hukum segera dihentikan,” kata Wasekjen PA 212 Novel Bamukmin, Rabu (16/12). (*)

Pos Terkait

Back to top button