Khazanah

Perjalanan Nabi (10), Masa Kenabian, Diangkat Menjadi Nabi

Penanusa.com – Ketika usia 40 Tahun ketika Muhammad S.A.W sedang melakukan kontemplasi atau berkholwat di gua Hiro datanglah Malaikat Jibril membawa wahyu dari Allah untuk yang pertama kalinya.

“Iqro’ Bismi Robbikal Ladzi Kholaq”, “Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang menciptakanmu”. Muhammad S.A.W menjawab “Ma Ana Bi Qori,in”; “Saya Tidak Dapat Membaca” dilakukan sampai berulang kali sampai akhir Surat Al-Alaq (surat Al- A1aq 95: 1-5).

Peristiwa tersebut terjadi pada hari Jum’at malam tanggal 17 Ramadhan atau bertepatan tanggal 6 Agustus 610 M. Maka penistiwa turunya wahyu pertama tersebut diperingati sebagal Nuzulul Qur’an.

Macam-macam Wahyu

Secara etimologi, wahyu adalah informasi rahasia yang disampaikan dengan cepat. Dan menurut terminologi, wahyu merupakan informasi yang disampaikan Allah kepada para nabi dan rasul-Nya berkenaan dengan syariat atau kewajiban, baik melalui perantara maupun tidak.

Wahyu diturunkan melalui perantara malaikat Jibril dan ini disebut dengan wahyu al-jali (wahyu yang disampaikan secara jelas).

Malaikat Jibril berwujud asli sesuai dengan bentuk yang telah diciptakan Allah SWT. Rasulullah pernah melihat Jibril dengan bentuknya ini dua kali.

Jibril datang dalam bentuk menyerupai salah seorang sahabat Nabi yang bernama Dihyah al-Kalbiy, yang berwajah tampan. Orang-orang yang hadir saat itu bisa melihat dan mendengar ucapannya. Namun, tidak seorangpun yang tahu wujud aslinya seperti yang diterangkan dalam hadits masyhur tentang iman, Islam dan ihsan.

Jibril datang dengan bentuk malaikat. Dalam keadaan ini, Jibril tidak tampak dan kedatangannya disertai suara genta. Cara datang demikian adalah keadaan yang paling berat dihadapi Nabi.

Bisikan di dalam hati Nabi.
Allah secara langsung atau melalui perantaraan malaikat Jibril menempatkan wahyu yang dikehendaki-Nya ke dalam hati Nabi, dengan keyakinan penuh bahwa wahtu itu berasal dari Allah. Hal ini sebagaimana sabdanya, “Jibril meniupkan wahyu ke dalam jiwaku bahwa suatu jiwa tidak akan pernah mati sehingga rezeki dan ajalnya telah terpenuhi. Oleh karena itu, hendaklah kalian takut kepada Allah dan perbaguslah dalam memohon.”

Allah berbicara langsung kepada Nabi mengenai apa yang Dia kehendaki dari balik tabir.

Saat terjaga.
Seperti ketika Allah berbicara dengan Musa di bukit Thur, sedangkan dengan Nabi pada malam Isra dan Mi’raj.

Saat tidur.
Ibnu Abbas dan Mu’adz meriwayatkan dari Nabi yang bersabda, “Rabbku datang dalam wujud yang sangat Indah.Dia berfirman, ‘Hai Muhammad’ Aku penuhi panggilan dan seruan-Mu ya Rabb, jawabku. Lalu dia meletakkan tangan-Nya pada kedua pundakku sehingga aku merasakan sejuk pada kedua dadaku kemudian aku bisa mengetahui segala yang ada di dunia ini dari timur hingga barat. Lalu Dia berfirman. ‘Muhammad’ ‘Kupenuhi panggilan dan seruan-Mu, ya Rabb.’ ‘Apa yang diperdebatkan para malaikat?’ Aku menjawab, ‘Tentang derajat dan peleburan dosa; tentang melangkah untuk shalat berjamaah; menyempurnakan wudhu paa waktu yang tidak disukai (sangat dingin); menunggu waktu shalat yang lain setelah melaksanakan satu shalat. Siapa saja yang bisa menjaga semua itu, maka dia akan hidup dalam kebaikan dan mati dalam kebaikan. Selain itu, semua dosanya pasti dilebur bagaikan bayi yang baru dilahirkan.” (HR. At-Tirmidzi [hasan shahih]).

Ilham. Ilmu yang disampaikan Allah ke dalam hati dan lisan Nabi saat memutuskan suatu hukum. Al-Qurtubi berkata bahwa wahyu itu adalah Ilham sebagaimana firman-Nya, “Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah.” (QS an-Nahl [16]: 68).

Mimpi saat tidur. Mimpi para nabi ialah wahyu, seperti mimpi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya, Ismail; mimpi Rasulullah bahwa kaum muslimin akan memasuki Masjidil Haram dengan aman dan rambut yang dicukukur dan dipotong. Dilansir dari sirohnabawiyah.com. (*)

Pos Terkait

Back to top button