Khazanah

Perjalanan Nabi (38), Perang dan Diplomasi Nabi, Perang Mu’tah

Rapat Syura di Ma’an
Penanusa.com – Jumlah raksasa dari pasukan musuh tersebut, sama sekali tidak diduga oleh pasukan kaum muslimin. Kebimbangan melanda mereka, apakah pasukan yang hanya berjumlah 3000 orang mampu menghalau badai serangan pasukan berjumlah 200.000 orang.

Maka di Ma’an (nama sebuah daerah), mereka menggelar musyawarah untuk menentukan sikap menghadapi kondisi tersebut. Pada awalnya mereka berencana untuk mengirim surat kepada Rasulullah memberitahukan jumlah pasukan musuh, agar dikirimkan pasukan tambahan atau beliau memerintahkan sesuatu yang lain.

Namun Abdullah bin Rawahah menentang rencana tersebut, seraya berkata:

“Wahai kaumku, sesungguhnya yang kalian khawatirkan ini, justru itulah yang kalian cari (mati syahid). Dan kita tidak berperang dengan jumlah dan kekuatan kita, tetapi kita berperang dengan agama ini yang karenanya Allah memuliakan kita. Berangkatlah, sesungguhnya pilihan kita hanyalah salah satu dari dua kebaikan, kemenangan atau mati syahid”.

Akhirnya pasukan kaum muslimin sepakat atas kesimpulan Abdullah bin Rawahah.

Maka berangkatlah pasukan kaum muslimin ke negeri musuh. Setelah tiba di sana mereka bermarkas di sebuah tempat bernama Mu’tah dan mempersiapkan pertempuran. Sayap kanan dipimpin Qutbah bin Qatadah al-Udzri dan sayap kiri dipimpin oleh Ubadah bin Malik al Anshari.

Di sanalah pertempuran antara kedua pasukan berkecamuk. 3000 pasukan melawan 200.000 pasukan; Peperangan yang sulit dipahami dan dicerna kecuali dengan bahasa keimanan.

Peperanganpun berkecamuk. Panglima perang Zaid bin Haritsah, seraya memegang bendera, berperang dengan gagah berani yang sulit dicari tandingannya, namun akhimya dia tersungkur terkena panah musuh. Seketika itu juga, bendera diambil oleh Ja’far bin Abi Thalib, diapun berperang dengan perkasa, di tengah peperangan, tangan kanannya terputus disabet pedang musuh, maka bendera tersebut digenggam oleh tangan kirinya, kemudian tangan kirinya pun putus disabet pedang musuh, maka bendera tersebut didekap oleh kedua lengannya, begitulah seterusnya dipegangnya bendera tersebut hingga akhimya diapun terbunuh.

Dikisahkan bahwa seorang Romawi menebas tubuhnya hingga terbelah dua. Namun Allah segera membalasnya dengan menggantikan kedua tangannya yang terputus dengan kedua sayap dari syurga yang dengannya dia terbang sesukanya. Karena itu, beliau dijuluki sebagai Ja’far at-Thayyar (Penerbang).

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ketika melihat tubuh Ja’far yang terbunuh bahwa dia menghitung lebih dari lima puluh tusukan di tubuh Ja’far, tidak ada yang tersisa di bagian belakang tubuhnya.

Setelah itu bendera diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah. Beliaupun dengan gagah berani menerobos ke tengah pasukan musuh. Awalnya dia agak ragu dan menyingkir sesaat. Lalu dia bersyair :

Aku bersumpah wahai jiwaku, engkau harus turun ke medan perang
Suka ataupun tidak suka
Jika pasukan sudah menyerang dan pedang sudah berdenting
Mengapa ku lihat engkau enggan terhadap syurga ?

Kemudian datanglah anak pamannya membawakannya sepotong daging untuk dia makan sebagai penguat tubuhnya, dia ambil daging tersebut, lalu dia gigit sekali kemudian dia buang, lalu dia ambil pedangnya dan masuk ke medan perang hingga akhirnya dia gugur. Dilansir dari sirohnabawiyah.com. (*)

Pos Terkait

Back to top button