Khazanah

Perjalanan Nabi (48), Akhir Kenabian

Persiapan Perang
Penanusa.com – Tiga hari sebelum sampainya berita pelanggaran perjanjian kepada Rasulullah, beliau telah memerintahkan Aisyah radhiallahu’anha untuk menyiapkan segala sesuatu untuknya.

Tidak ada seorangpun yang tahu. Maka ketika Abu Bakar datang kepadanya, beliaupun heran, untuk apa hal tersebut. Bahkan Aisyah sendiri tidak mengetahuinya.

Namun setelah jelas berita penyerangan Bani Bakar terhadap Khuza’ah, tahulah mereka sebabnya, Rasulullah memerintahkan mereka untuk bersiap-siap menuju Mekkah. Namun Rasulullah menghendaki hal tersebut tidak diketahui oleh Kaum Quraisy agar dapat melakukan penyerbuan mendadak.

Untuk tujuan tersebut, maka Rasulullah mengirim pasukan yang dipimpin Abu Qatadah ke arah lain agar dikira bahwa Rasulullah akan menuju ke sana.

Namun, Hatib bin Abi Balta’ah mengirim surat ke suku Quraisy memberitahukan rencana tersebut lewat kurir upahan seorang wanita. Wanita tersebut menyimpannya di balik kepang rambutnya.

Rasulullah mengetahui tindakan tersebut berdasarkan wahyu dari langit, maka beliau segera mengutus Ali dan Miqdad untuk mengejarnya. Merekapun berdua mengejar dan berhasil menemuinya. Mulanya wanita itu tidak mengakuinya. Namun setelah diancam geledah, akhirnya dia mengakuinya.

Rasulullah segera memanggil Hatib bin Abi Balta’ah. Dia mengakui perbuatan tersebut dengan alasan bahwa di Mekkah terdapat banyak sanak saudaranya yang jika terjadi serangan pasukan kaum muslimin, tidak ada yang akan melindungi mereka. Maksudnya adalah, dengan berita tersebut, sanak saudaranya bersiap-siap melindungi dirinya.

Umar bin Khattab sangat marah dengan perbuatan Hatib tersebut dan minta izin kepada Rasulullah untuk membunuhnya. Namun Rasulullah menenangkannya bahwa betapapun Hatib adalah sahabat yang pernah ikut perang Badar seraya berkata:

“Sungguh dia telah ikut perang Badr, engkau tidak tahu ya Umar, boleh jadi Allah telah menangkap isi hati mereka, dan berkata: Berbuatlah sesuka kalian, Aku sungguh telah mengampuni kalian”.

Umar menangis setelah mendengar keterangan Rasulullah¬, seraya berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”.

Demikianlah, akhirnya informasi persiapan kaum muslimin untuk sebuah peperangan tidak sampai kepada suku Quraisy. Dilansir dari sirohnabawiyah.com. (*)

Pos Terkait

Back to top button