Perjalanan Nabi (58), Akhir Kenabian, Pereang Tabuk

Bagikan :

Share on facebook
Share on twitter
Perjalanan Nabi (58), Akhir Kenabian, Pereang Tabuk
Perjalanan Nabi (58), Akhir Kenabian, Pereang Tabuk

Pasukan Islam Berangkat ke Tabuk
Penanusa.com – Setelah berbagai persiapan telah dilakukan, Rasulullah memerintahkan Muhammad bin Maslamah untuk berjaga di Madinah dan menitipkan ahlul bait-nya kepada Ali Bin Thalib.

Orang-orang munafiq menyindir Ali tentang hal tersebut, sehingga beliau segera menemui Rasulullah untuk ikut berperang. Tapi Rasulullah minta dia kembali seraya berkata:

“Tidakkah kamu suka jika kedudukanmu seperti kedudukan Harun di sisi Musa, kecuali saja tidak ada nabi lagi setelah aku”

Pasukan kaum muslimin saat itu terdiri dari 30.000 prajurit, jumlah pasukan terbesar yang sebelumnya tidak pernah mencapai jumlah seperti itu. Sehingga sekalipun kaum muslimin telah memberikan infaq sebanyak-banyaknya, namun tetap tidak dapat memenuhi pasukan sebesar itu dengan layak.

Bahkan pasukan mengalami kekurangan yang sangat banyak dalam masalah perbekalan dan kendaraan, hingga setiap satu onta dinaiki secara bergantian oleh 18 orang. Kadang-kadang mereka harus memakan dedaunan hingga mulut-mulut mereka bengkak.

Bahkan untuk mendapatkan air minum mereka menyembelih ontanya yang sangat sedikit jumlahnya untuk mereka ambil simpanan air di perutnya. Karena itu pasukan ini dikenal dengan istilah Jaisyul ‘Usrah (Pasukan yang sangat memprihatinkan).

Di tengah perjalanan, tentara kaum muslimin sempat melewati bekas perkampungan kaum Tsamud. Ketika mereka akan mengambil air dari sumurnya, Rasulullah bersabda:

“Jangan kalian minum airnya, dan berwudhu dengannya. Adonan yang sudah kalian buat, agar diberikan kepada anta, jangan ada yang dimakan sedikitpun”.

Lalu Rasulullah memerintahkan mereka untuk minum dari sumur yang didatangi oleh ontanya Nabi Shaleh alaihissalam.

Di tengah perjalanan, pasukan mengalami kekurangan air, mereka mengadu kepada Rasulullah. Lalu beliau berdoa kepada Allah, hingga Dia menurunkan hujannya.
Dalam perjalanan ini Rasulullah selalu menjama’ antara shalat Dzuhur dan Ashar, Maghrib dan ‘Isya, kadang jama’ taqdim, kadang jama’ ta’khir. Dilansir dari sirohnabawiyah.com. (*)

Topik Lainya:

Kabar Terkait:

Kabar Utama:

Kabar Terbaru:

logo 120x120
Rekam Jejak Indonesia

Portal berita online terkini hari ini dari media mainstream terbaik dan terpercaya

Ikuti Kami

©2021 penanusa.com. All rights reserved.

Tentang Kami | Redaksi | Pedoman Media Siber | Privacy Policy | Hubungi Kami