Perjalanan Nabi (62), Akhir Kenabian, Haji Wada’ dan Wafatnya Nabi

Bagikan :

Share on facebook
Share on twitter
Perjalanan Nabi (62), Akhir Kenabian, Haji Wada’ dan Wafatnya Nabi
Perjalanan Nabi (62), Akhir Kenabian, Haji Wada’ dan Wafatnya Nabi

Berbondong-bondong Masuk Agama Allah

Penanusa.com – Setelah perjanjian Hudaibiah, kemudian disusul Fathu Mekkah lalu dikuatkan oleh kemenangan perang Tabuk. Semakin nyatalah kemenangan dakwah Rasulullah¬.

Beban dakwah yang sejak awal dipikul sedemikian berat, penuh dengan rintangan dan cobaan, beliau dan para sahabatnya lalui dengan penuh kesabaran dan keuletan, diimbangi dengan strategi dan rencana matang, akhirnya membuahkan hasil yang sangat menggembirakan. Yaitu eksisnya agama Allah di Jazirah Arabia. Hal tersebut tampak dengan semakin berbondong-bondongnya orang yang masuk Islam.

Sebagai perbandingan, tentara kaum muslimin ketika terjadi perjanjian Hudaibiah berjumlah tak lebih 3000 orang, namun dua tahun kemudian pada peristiwa Fathu Mekkah sudah berjumlah 10.000 orang, lalu belum genap setahun kemudian pada perang Tabuk sudah berjumlah 30.000 orang dan akhirnya pada peristiwa Haji Wada’, hadir lautan manusia dari kaum muslimin waktu itu, yang berjumlah 144.000 orang.

Pada sekitar tahun-tahun tersebut (tahun 9-10 H), berdatangan utusan-utusan dari berbagai suku Arab untuk menyatakan Ke-Islamannya. Tak kurang terdapat 70 utusan yang datang kepada Rasulullah ¬.

HAJI WADA’

Pada tahun 10 H, Rasulullah mengumumkan akan melaksanakan ibadah haji. Maka kaum muslimin berdatangan ke Madinah untuk ikut menunaikan haji bersama beliau sekaligus ingin mengetahui pelaksanaannya sebagaimana yang Rasulullah lakukan.

Pada hari Sabtu, empat hari sebelum berakhir bulan Dzul Qa’idah, Rasulullah telah bersiap-siap untuk berangkat setelah waktu Dzuhur. Kemudian beliau tiba di Dzul Hulaifah sebelum waktu Ashar.

Keesokan harinya, di tempat tersebut, sebelum shalat Dzuhur, Rasulullah mandi untuk persiapan ihram, lalu Aisyah memakaikan wewangian di badan dan kepalanya. Kemudian beliau mengenakan pakaian ihramnya, lalu shalat Dzuhur dua rakaat (diqhasar karena dalam perjalanan). Di tempat shalat tersebut, beliau berniat melakukan ihram haji dan umrah, yaitu haji Qiran, lalu beliau beranjak dan mengendarai ontanya; Quswa.

Setelah delapan hari perjalanan, menjelang tiba di Mekkah beliau mandi dan shalat Shubuh pada tanggal 4 Dzul Hijjah 10 H. Lalu beliau menuju Mekkah dan langsung ke Masjidil Haram melakukan thawaf dan sa’i antara Shafa dan Marwa, dan tidak melakukan tahallul, karena hajinya Qiron.

Sedang para sahabat diperintahkannya untuk menjadikan ihramnya kala itu sebagai ihram umrah . Maka setelah selesai thawaf dan sa’i mereka melakukan tahallul sempurna dari umrah.
Saat itu Rasulullah bersabda:

“Seandainya aku mengetahui lebih dahulu apa yang terjadi kemudian pada diriku, niscaya aku tidak akan membawa hewan qurban, dan jika tidak ada hewan Qurban padaku, niscaya aku akan tahallul”.

Pada tanggal 8 Dzul Hijjah -yaitu hari Tarwiyah- Rasulullah menuju Mina, di sana beliau shalat Dzuhur hingga Fajar. Setelah shalat Fajar, beliau berdiam sebentar hingga terbit matahari.

Setelah itu, beliau berangkat ke Arafah. Di Namirah di dapatkan kemahnya telah didirikan, maka beliau singgah di sana. Setelah matahari tergelincir dia naik ontanya; Quswa untuk berangkat hingga Lembah Wadi’. Di sana telah berkumpul sekitar seratus empat puluh empat ribu manusia. Maka di sana beliau sampaikan khutbahnya sebagai berikut:

“Wahai manusia, dengarlah ucapanku, karena sesungguhnya mungkin aku tidak akan menjumpai kalian lagi setelah tahun ini. di tempat wukuf ini selamanya.

Sesungguhnya darah dan harta kalian suci, sebagaimana sucinya hari ini, bulan ini dan negeri ini. Ketahuilah semua perkara-perkara jahiliah berada di bawah kakiku tidak berlaku, begitu pula dengan darah jahiliah telah tidak berlaku.

Darah pertama yang aku batalkan adalah darah Rabi’ah bin al-Harits yang dahulu disusui di Bani Sa‘ad lalu dibunuh oleh Hudzail. Riba Jahiliah juga telah tidak berlaku, dan riba pertama yang aku batalkan adalah ribanya Abbas bin Abdul-Muththalib, sesungguhnya semuanya tidak lagi berlaku.

Bertakwalah kalian kepada Allah dalam urusan wanita, karena kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, kalian halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Untuk itu, hak kalian adalah bahwa isteri-isteri kalian tidak boleh menghamparkan alasnya kepada orang yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan hal itu, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Sedang hak mereka yang merupakan kewajiban kalian adalah diberi nafkah dan sandang yang layak.

Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang tidak akan membuat kalian tersesat jika berpegang teguh kepadanya; yaitu Kitabullah.

Wahai manusia; sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, tidak ada umat setelah kalian. Maka sembahlah Rabb kalian, shalatlah lima waktu, puasalah di bulan kalian (Ramadhan), tunaikanlah zakat harta kalian yang akan mensucikan diri kalian, tunaikanlah haji ke Baitullah, ta’atilah pemimpin kalian, kalian akan masuk Surga Tuhan Rabb kalian”.

“Kalian bertanya tentang aku, apa yang akan kalian katakan ?”, mereka menjawab: “Kami bersaksi bahwa engkau telah menunaikan (amanah) dan memberi nasihat”.

Lalu Rasulullah berkata seraya mengangkat telunjuknya ke langit kemudian mengarahkannya ke arah manusia seraya berkata: “Ya Allah, saksikan lah” (beliau ucapkan sebanyak tiga kali).

Saat itu yang berteriak menyampaikan khutbah Rasulullah adalah Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf.
Setelah selesai khutbah, turunlah firman Allah Ta’ala:

“Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. al-Maidah: 3)

Umar bin Khattab yang mendengar ayat tersebut menangis. Ketika ditanya mengapa dia menangis, beliau menjawab:
“Sesungguhnya sesuatu yang telah sempurna, berikutnya akan berkurang”.

Setelah khutbah, Bilal melantunkan adzan, kemudian iqomah, maka Rasulullah mengimami shalat dzuhur dua rakaat, kemudian iqomah lagi lalu beliau shalat Ashar dua rakaat, tidak ada shalat di antara keduanya. Kemudian Rasulullah mengendarai ontanya menuju tempat wukuf. Setiba di sana beliau memerintahkan ontanya untuk berdekam, lalu beliau menghadap kiblat, dan wukuf hingga terbenam matahari.

Setelah cahaya kekuningan sudah menghilang, beliau -seraya membonceng Usamah- berangkat ke Muzdalifah. Di sana beliau shalat Maghrib dan ‘Isya dengan sekali adzan dan dua kali iqomah, beliau tidak bertasbih di antaranya sedikitpun. Kemudian beliau tidur hingga terbit Fajar, lalu beliau shalat fajar setelah jelas masuk waktunya dengan adzan dan iqomah. Kemudian beliau mengendarai Quswa hingga tiba di Masy’aril Haram. Lalu beliau menghadap kiblat, berdoa, bertakbir, tahlil. Beliau tetap disitu hingga hari mulai terang.

Sebelum terbit matahari, beliau berangkat dari Muzdalifah ke Mina, kali ini beliau membonceng al-Fadhl bin Abbas. Ketika beliau tiba di Lembah Muhasir, beliau mempercepat sedikit, kemudian menempuh jalan tengah hingga tiba di Jumrah Kubra yang disebut dengan Jumrah Aqobah. Kemudian beliau melempar batu-batu kerikil sebanyak tujuh kali seraya bertakbir setiap kali lemparan. Setelah itu, beliau menuju tempat berkurban, lalu beliau menyembelih enam puluh tiga onta dengan tangannya. Kemudian dari hewan-hewan itu ada yang dimasak dan dimakan olehnya.

Setelah itu Rasulullah menuju Mekkah. Pada tanggal 10 Dzul Hijjah (Hari Nahr), ketika waktu dhuha sudah tiba, beliau berkhutbah lagi. Di antara isinya adalah sebagaimana yang beliau ucapkan pada khutbah Wada’ di Arafah.

Kemudian pada hari Tasyrik, beliau menetap di Mina, menunaikan manasik haji dan mengajarkan ajaran-ajaran agama, berzikir kepada Allah, menegakkan ajaran-ajaran Allah dan menghapus bekas-bekas kesyirikan dan simbol-simbolnya. Beliaupun juga berkhutbah pada sebagian hari Tasyrik.

Pada hari Nafar Tsani (tanggal 13 Dzul Hijjah), Rasulullah keluar dari Mina, setelah itu singgah di Bani Kinanah bin Abtah beberapa hari. Kemudian beliau menuju Mekkah untuk thawaf Wada’ dan beliau juga perintahkan para sahabatnya untuk thawaf Wada’.

Setelah selesai melaksanakan semua manasiknya, beliau menyerukan rombongan untuk kembali ke Madinah.

PASUKAN PERANG TERAKHIR

Ketika Rasulullah masih melihat kesewenang-wenangan penguasa Romawi dan kesombongan mereka, beliau menyiapkan pasukan besar untuk dikirim ke Romawi pada bulan Shafar tahun 11 H untuk menakut-nakuti Romawi dan mengembalikan kepercayaan bangsa Arab dan suku-suku perbatasan yang sudah berpihak kepada Rasulullah. Usamah bin Zaid ditunjuk menjadi panglima perang.

Kaum muslimin memperbincangkan keputusan Rasulullah dalam pengangkatan Usamah karena usianya yang masih belia sehingga mereka terasa enggan untuk berangkat.

Akhirnya Rasulullah bersabda:

“Jika kalian menyangsikan kepemimpinannya, dahulupun kalian menyangsikan kepemimpinan bapaknya. Demi Allah, sesungguhnya beliau mampu memimpin, dan sesungguhnya bapaknya adalah orang yang paling saya cintai, dan beliau adalah orang yang paling saya cintai sesudahnya”.

Akhirnya pasukan sepakat berada di bawah komando Usamah. Maka Usamah mulai mengatur pasukannya dan berangkatlah mereka hingga sebuah tempat bernama Jaraf, sekitar satu farsakh dari kota Madinah. Akan tetapi berita sakit kerasnya Rasulullah membuat mereka menunda meneruskan perjalanan mereka sambil menunggu kabar pasti tentang beliau.

Ketentuan Allah jualah, jika akhirnya pasukan ini kemudian menjadi pasukan pertama yang dikirim pada zaman Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq. Dilansir dari sirohnabawiyah.com. (*)

Kabar Utama:

Kabar Terbaru:

logo 120x120

Rekam Jejak Indonesia

Portal berita online terkini hari ini dari media mainstream terbaik dan terpercaya

Ikuti Kami

©2021 penanusa.com. All rights reserved.

Tentang Kami | Redaksi | Pedoman Media Siber | Privacy Policy | Hubungi Kami