Perjalanan Nabi (63), Akhir Kenabian, Menghadap ke Haribaan Allah

Bagikan :

Share on facebook
Share on twitter
Perjalanan Nabi (63), Akhir Kenabian, Menghadap ke Haribaan Allah
Perjalanan Nabi (63), Akhir Kenabian, Menghadap ke Haribaan Allah

Tanda-Tanda Perpisahan
Penanusa.com – Ketika dakwah sudah semakin sempurna, dan Islam sudah mengendalikan keadaan, mulailah tampak tanda-tanda perpisahan Rasulullah dengan kehidupan. Hal tersebut tampak dari perasaan, ucapan dan perbuatan beliau.

Pada bulan Ramadhan tahun 10 H, Rasulullah melakukan I’tikaf selama 20 hari, padahal pada tahun-tahun sebelumnya, beliau hanya beri’tikaf selama 10 hari. Kemudian malaikat Jibril mengajarkannya al-Quran sebanyak dua kali padahal sebelumnya hanya sekali.

Dan pada haji Wada’ beliau bersabda:

“Saya tidak tahu, mungkin saja saya tidak berjumpa dengan kalian setelah tahun ini di tempat wukuf ini selamanya”.

Kemudian di Jumrah Aqabah beliau juga bersabda:

“Ambillah dariku manasik haji kalian, mungkin saya tidak sempat pergi haji lagi setelah tahun ini”.
Kemudian turun pula surat An-Nashr pada pertengahan hari Tasyriq. Beliau tahu bahwa itu tanda perpisahan dan ucapan duka bagi dirinya.

Pada akhir bulan Shafar tahun 11 H, Rasulullah keluar menuju Uhud, lalu beliau mendoakan Syuhada Uhud, seakan perpisahan kepada orang-orang yang hidup dan yang telah mati, kemudian menuju mimbar dan berpidato:

“Aku akan mendahului kalian, aku akan menjadi saksi bagi kalian, sungguh sekarang aku telah melihat telagaku, dan sungguh aku telah diberikan kunci-kunci bumi dan simpanannya, sungguh aku tidak takut kalian berlaku syirik setelahku, akan tetapi yang aku takutkan adalah kalian saling berlomba-lomba terhadap dunia”

Kemudian beliau juga pergi ke pekuburan Baqi’, lalu mengucapkan salam kepada penghuninya dan memintakan ampunan untuk mereka.

 

Permulaan Sakit

Pada tanggal 29 Shafar tahun 11 H, hari Senin, Rasulullah menderita sakit kepala dan merasakan panas yang sangat.

Begitu seterusnya Rasulullah menderita sakit selama 13 atau 14 hari. Namun Rasulullah masih sempat mengimami shalat berjama’ah sekitar sebelas hari.

 

Minggu Terakhir

Sakit Rasulullah kian parah. Dia bertanya kepada isteri-nya :

“Di mana giliran saya besok, di mana giliran saya besok?”.

Mereka memahami maksud Rasulullah, maka mereka mengizinkan Rasulullah untuk tinggal di mana beliau suka. Akhirnya Rasulullah pindah ke rumah Aisyah. Selama di sana Aisyah membacakan surat al-Mu’awwizzat (surat-surat yang berisi mohon perlindungan; al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Nas) dan doa-doa yang dia dapatkan dari Rasulullah, kemudian dia tiup dan diusapkan ke tubuh Rasulullah dengan tangannya, mengharapkan barokah darinya.

Di sanalah beliau menghabiskan minggu terakhir kehidupannya. Dilansir dari sirohnabawiyah.com. (*)

Kabar Utama:

Kabar Terbaru:

logo 120x120

Rekam Jejak Indonesia

Portal berita online terkini hari ini dari media mainstream terbaik dan terpercaya

Ikuti Kami

©2021 penanusa.com. All rights reserved.

Tentang Kami | Redaksi | Pedoman Media Siber | Privacy Policy | Hubungi Kami