Perjalanan Nabi (65), Akhir Kenabian, Menghadap ke Haribaan Allah

Bagikan :

Share on facebook
Share on twitter
Perjalanan Nabi (65), Akhir Kenabian, Menghadap ke Haribaan Allah
Perjalanan Nabi (65), Akhir Kenabian, Menghadap ke Haribaan Allah

Sehari atau Dua Hari Sebelum Wafat
Penanusa.com – Pada hari Sabtu atau Ahad, Rasulullah merasakan sakitnya terasa ringan. Maka diapit oleh dua orang, beliau keluar untuk shalat Dzuhur, sementara itu Abu Bakar sedang mengimami shalat.

Ketika Abu Bakar melihatnya, maka Abu Bakar berusaha mundur, namun Rasulullah memberikan isyarat kepadanya agar tidak mundur. Beliau berkata : “Dudukkan saya di sampingnya”.

Maka Rasulullah didudukkan di sisi kiri Abu Bakar, dan Abu Bakar mengikuti shalatnya Rasulullah dan memperdengarkan takbir kepada ma’mum.

Sehari Sebelum Wafat

Pada hari Ahad, sehari sebelum wafat. Rasulullah memerdekakan budaknya. Beliaupun bersedekah sebanyak sembilan dinar, senjatanya dihadiahkan kepada kaum muslimin.

Pada malam harinya, Aisyah meminjam minyak untuk lampu dari tetangganya. Saat itu, baju besinya digadaikan kepada seorang Yahudi untuk mendapatkan tiga puluh sha’ gandum.

Hari Terakhir dalam Kehidupan Rasulullah

Hari itu, hari Senin, Ketika kaum Muslimin shalat Subuh diimami oleh Abu Bakar, Rasulullah membuka tirai rumahnya untuk melihat mereka, beliau tersenyum dan tertawa. Abu Bakar mundur ke barisan shalat, karena dia mengira Rasulullah akan shalat.

Namun Rasulullah melambaikan tangannya dan memberikan isyarat agar mereka meneruskan shalatnya, kemudian beliau masuk kembali ke kamarnya dan menutup tirai rumahnya.

Waktu Dhuha tiba. Rasulullah memanggil Fathimah lalu membisikkan sesuatu kepadanya. Diapun menangis. Kemudian beliau membisikkannya lagi. Kali ini dia tersenyum.

Di kemudian hari (setelah kematian Rasulullah¬), Aisyah bertanya kepada Fatimah radhiallahu’anhuma tentang kejadian tersebut. Maka Fatimah menjawab: “Rasulullah membisikkan kepadaku bahwa dia akan meninggal karena sakit yang dideritanya, maka aku menangis, kemudian beliau membisikkan aku lagi bahwa akulah dari keluarganya yang pertama menyusulnya, maka akupun tersenyum”.

Rasulullah pun memberikan kabar gembira kepada Fatimah bahwa dia adalah Pemimpin wanita di alam ini.

Fatimah menyaksikan dengan sedih penderitaan yang dialami oleh ayahnya. Diapun berucap : “Betapa menderitanya engkau wahai bapakku”. Namun Rasulullah menjawab: “Tidak ada lagi penderitaan bapakmu setelah hari ini”.

Kemudian Rasulullah memanggil kedua cucunya; Hasan dan Husain dan mencium keduanya, lalu berwasiat kepadanya. Kemudian terhadap isteri-isterinya beliaupun memberikan nasihat dan pesan-pesannya.

Sakit Rasulullah kian parah, namun beliau tidak lupa berwasiat kepada kaum muslimin :

“Shalat, Shalat, dan (perhatikanlah) budak-budak kalian yang kalian miliki”.
Diulanginya hal tersebut berkali-kali, maksudnya agar memperhatikan kedua hal tersebut. Dilansir dari sirohnabawiyah.com. (*)

Kabar Utama:

Kabar Terbaru:

logo 120x120

Rekam Jejak Indonesia

Portal berita online terkini hari ini dari media mainstream terbaik dan terpercaya

Ikuti Kami

©2021 penanusa.com. All rights reserved.

Tentang Kami | Redaksi | Pedoman Media Siber | Privacy Policy | Hubungi Kami