Perjalanan Nabi (70), Akhir Kenabian, Akhlak Rasulullah

Bagikan :

Share on facebook
Share on twitter
Perjalanan Nabi (70), Akhir Kenabian, Akhlak Rasulullah
Perjalanan Nabi (70), Akhir Kenabian, Akhlak Rasulullah

Penanusa.com – Ucapan beliau fasih, memiliki nilai sastra, penuh hikmah, sedikit namun bermakna (Jawami’ul Kalim).

Sikapnya santun, pemaaf walau mampu membalas, sabar saat sulit, semakin berat cobaan, semakin bertambah kesabarannya.

Aisyah radhiallahu’anha menuturkan :
“Tidak ada yang dipilih Rasulullah di antara dua perkara kecuali dia memilih yang lebih mudah selama tidak berdosa. Jika berdosa, dia adalah orang yang paling jauh darinya. Rasulullah tidak pernah dendam, kecuali jika larangan Allah dilanggar. Beliau adalah orang yang paling jauh dari sifat marah, dan paling mudah mendapatkan keridha’annya”.

Beliau memiliki sifat dermawan sesuai kemampuannya. Suka memberi tak takut miskin.

Jabir berkata : “Beliau jika diminta sesuatu, tidak pernah menjawab: Tidak”.
Beliau adalah seorang pemberani dan yang paling berani.

Anas bin Malik menuturkan :
“Pernah suatu kali, penduduk Madinah dikagetkan oleh sebuah suara, orang-orang segera menuju ke arah sumber suara. Namun ternyata mereka mendapati Rasulullah telah kembali dari tempat tersebut….”
Beliau adalah seorang yang sangat pemalu, lebih pemalu dari seorang gadis pingitan. Jika membenci sesuatu, tampak dari wajahnya. Pandangannya tidak disorotkan kepada seseorang. Jika ada berita tak baik tentang seseorang, dia tidak sebutkan namanya, namun cukup dia katakan :
“Kenapa ada kaum yang melakukan ini…dan ini…”

Beliau adalah orang yang paling adil, paling menjaga kehormatannya, paling jujur ucapannya, paling menjaga amanah. Semua itu diakui oleh kawan maupun lawan. Bahkan sebelum kenabiannya beliau telah dijuluki al-Amiin (Yang Dipercaya).

Abu Jahal berkata kepadanya :
“Sesungguhnya kami tidak mendustaimu, tapi kami mendustai apa yang engkau bawa”.

Sehingga Allah turunkan ayat-Nya :
“Karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang- yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah” (QS. al-An’am: 33)

Beliau adalah orang yang sangat tawadhu (rendah hati), paling jauh dari sifat sombong. Beliau melarang orang-orang berdiri untuknya sebagaimana perlakuan terhadap para raja. Beliau mengunjungi orang-orang miskin, bercengkrama dengan mereka, bahkan menghadiri undangan budak. Beliau duduk bersama sahabat-sahabatnya seperti halnya mereka.

Aisyah radhiallahuanha menuturkan :
“Rasulullah menjahit sendal dan bajunya, melakukan segala pekerjaan rumah dengan tangannya, dia adalah manusia sebagaimana manusia lainnya, membersihkan bajunya, memerah susu kambingnya dan mengurus dirinya sendiri”.
Beliau adalah orang yang paling memenuhi janji, menyambung silaturrahim, paling kasih terhadap sesama manusia. Pribadinya serba mudah, tidak kasar dan beringas.

Dalam sebuah perjalanan, beliau memerintahkan sahabat untuk menyiapkan hidangan kambing. Seseorang berkata: “Saya yang menyembelih”, yang lain berkata: “Saya yang menguliti”, yang lain berkata: “Saya yang memasak”, dan Rasulullah berkata: “Saya yang mencari kayu bakarnya”. Sahabat-sahabatnya berkata : “Cukuplah kami ya Rasulullah”. Rasulullah menjawab: “Saya tahu kalian dapat melakukannya tanpa saya, tapi saya tidak ingin berbeda dari kalian. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap hambanya yang ingin diistimewakan dari sahabat-sahabatnya”, lalu beliau bangkit dan mengumpulkan kayu bakar.

Aktifitas beliau selalu dihiasi oleh dzikir, pembicaraannya selalu dijaga, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat.

Kharijah bin Zaid berkata : “Rasulullah adalah orang yang sangat berwibawa di majlisnya, hampir-hampir pandangannya tidak di arahkan ke mana-mana, banyak diam, tidak bicara jika tidak perlu, menegur siapa yang pembicaraannya tidak baik, tawa beliau adalah tersenyum, pembicaraannya jelas, tidak terlalu berlebih dan tidak terlalu pendek, para sahabatnyapun tertawa dengan tersenyum karena menghormati dan mengikuti beliau”.
Kesimpulannya adalah, bahwa pribadi Rasulullah sangat agung, tiada bandingnya. Karena langsung dibimbing oleh Tuhan-nya. Bahkan Allah memujinya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Qs. al-Qalam : 4)

Sifat-sifat beliau yang telah disebutkan di atas tidaklah mewakili seluruh kemuliaan Rasulullah¬. Karena tidak ada kata-kata dan tulisan yang dapat menggambarkan secara keseluruhan kemuliaan Rasulullah yang sangat besar itu. Dilansir dari sirohnabawiyah.com. (*)

Topik Lainya:

Kabar Terkait:

Kabar Utama:

Kabar Terbaru:

logo 120x120
Rekam Jejak Indonesia

Portal berita online terkini hari ini dari media mainstream terbaik dan terpercaya

Ikuti Kami

©2021 penanusa.com. All rights reserved.

Tentang Kami | Redaksi | Pedoman Media Siber | Privacy Policy | Hubungi Kami